Deder Kembali Menggema di Nihan Hilir, Rumah Betang Bersejarah Tambau Minta Perhatian Pemda
Font Terkecil
Font Terbesar
Itahnews.com,BARITO UTARA, 30 Agustus 2026 — Kesenian tradisional Deder kembali menggema di Desa Nihan Hilir, wilayah Tambau, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Pertunjukan seni budaya yang digelar selama dua hari, Jumat–Sabtu (28–29 Agustus 2026), tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat maupun warga dari sejumlah desa tetangga.
Kegiatan Deder diselenggarakan oleh Jamilah, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, dalam rangka nahur hajat. Ratusan masyarakat hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Selama pelaksanaan, kegiatan berlangsung tertib, khidmat dan lancar.
Sekretaris Desa Nihan Hilir, Arbino, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Deder merupakan salah satu warisan budaya masyarakat yang harus terus dijaga dan dikembangkan agar keberadaannya tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Kami sangat mendukung kegiatan seni budaya seperti ini. Kami berharap kegiatan seperti Deder tetap dikembangkan dan dilestarikan. Kami juga memohon kepada instansi terkait, khususnya Disbudparpora, agar dapat memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian seni budaya Deder,” ujar Arbino.
Hal senada disampaikan Tina Licha (Icha) selaku Humas Organisasi Masyarakat Gabungan Suku Dayak DAS Barito. Menurutnya, kehadiran organisasi masyarakat dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan sekaligus apresiasi terhadap upaya menjaga budaya lokal.
“Kehadiran kami dari organisasi masyarakat dalam acara Seni Budaya Deder ini merupakan salah satu bentuk dukungan dan apresiasi. Saya berharap kesenian seperti ini terus digalakkan dan semakin diminati, khususnya oleh kalangan anak-anak muda,” tegas Icha.
Rumah Betang Tahun 1935 Mulai Lapuk, Perlu Perhatian
Tidak hanya kesenian Deder, wilayah Tambau, Desa Nihan Hilir, juga menyimpan warisan budaya berupa Rumah Betang yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat.
Rumah Betang tersebut diketahui telah berdiri sejak 1935 dan hingga kini masih bertahan. Namun, faktor usia membuat kondisi fisik bangunan mulai mengalami kerusakan. Sejumlah bagian bangunan mulai rapuh, atap mengalami kebocoran, sementara kondisi lantai juga mulai membutuhkan perbaikan.
Selain persoalan bangunan, fasilitas pendukung seperti sanitasi atau toilet juga dinilai belum memadai.
“Kondisi fisik bangunan sudah banyak yang rapuh. Atapnya bocor, lantainya juga sudah mulai rapuh dan diperlukan fasilitas WC. Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap keberadaan Rumah Betang ini karena merupakan bagian dari situs budaya yang memiliki nilai sejarah,” kata Icha.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Barito Utara melalui instansi terkait dapat memberikan perhatian dan langkah nyata terhadap keberadaan kesenian Deder maupun Rumah Betang tersebut.
Pelestarian keduanya dinilai bukan sekadar menjaga bangunan atau mempertahankan sebuah pertunjukan tradisional, tetapi juga merupakan bagian dari upaya merawat identitas dan sejarah masyarakat Dayak di Barito Utara.
Keberadaan Rumah Betang juga diharapkan dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi budaya bagi generasi muda, sehingga mereka tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi dapat melihat dan memahami langsung peninggalan budaya yang masih ada di daerahnya.
Upaya pelestarian tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan dan generasi muda. Dengan perhatian serta dukungan yang berkelanjutan, Deder dan Rumah Betang di Nihan Hilir Tambau diharapkan tetap hidup, terawat dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
(Icha)
(AF/Tim Red).