Habar Uluh Itah

“Memburu Cahaya Lailatul Qadar: Spiritualitas Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan”


Itahnews.com,Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam di berbagai penjuru dunia kembali menapaki perjalanan spiritual yang penuh harapan dan ketenangan. Malam-malam ini diyakini sebagai waktu yang paling istimewa dalam bulan suci, ketika setiap doa dipanjatkan dengan harap dan setiap ibadah dilakukan dengan kesungguhan, demi meraih keberkahan yang tak ternilai: Lailatul Qadar.
Suasana Ramadhan yang semula berjalan dengan ritme biasa, berubah menjadi lebih khidmat dan intens. Sepuluh malam terakhir bukanlah waktu untuk beristirahat, melainkan momentum memperbanyak ibadah. Langkah kaki umat Muslim terasa semakin ringan menuju masjid dan mushala, membawa satu tujuan besar: mencari malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan.
Di bawah langit malam yang tenang, masjid-masjid yang biasanya mulai lengang setelah salat tarawih kini kembali dipenuhi oleh jamaah. Ada suasana yang berbeda di udara—hening, damai, dan penuh harap—seolah dunia turut menundukkan diri dalam keagungan malam-malam istimewa tersebut. Dalam keyakinan umat Islam, para malaikat turun membawa kedamaian hingga terbitnya fajar.
Di dalam masjid, cahaya lampu yang temaram menyaksikan kekhusyukan para hamba. Desau tilawah Al-Qur’an terdengar lembut, ayat demi ayat dilantunkan perlahan, meresap hingga ke relung hati. Di atas sajadah, air mata menjadi saksi penyesalan atas kesalahan masa lalu, sekaligus harapan akan pengampunan dari Allah SWT.
Lantunan doa pun terus menggema, salah satunya doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” — Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Rasa kantuk dan lelah akibat terjaga sepanjang malam seakan memudar oleh semangat ibadah. Para jamaah memperpanjang ruku dan sujud, memperbanyak zikir dan doa, serta memanfaatkan setiap detik yang ada. Kesadaran bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan datang kembali tahun depan menjadikan setiap malam terasa begitu berharga.
Para pemburu keberkahan tetap teguh dalam ikhtiar mereka. Meski tidak mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar hadir, keyakinan bahwa setiap usaha yang tulus akan dibalas oleh Allah SWT membuat mereka terus beribadah dengan penuh harap.
Ketika fajar menyingsing, mereka pulang dengan hati yang lebih lapang, jiwa yang lebih bersih, dan keyakinan bahwa malam yang mereka jalani telah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” Janji inilah yang menjadi cahaya bagi setiap jiwa yang rindu akan ridha Ilahi.

(AF/Redaksi)